Mepe Kasur, Tradisi Unik Masyarakat Osing di Banyuwangi yang Hanya Digelar Setahun Sekali

BeritaHarianJatim.com, BANYUWANGI – Memasuki bulan Dzulhijjah, suasana di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, berubah menjadi istimewa. Ribuan kasur berwarna merah dan hitam tiba-tiba menghampar di sepanjang jalan desa. Warga setempat tengah menggelar tradisi turun-temurun yang disebut Mepe Kasur, atau menjemur kasur secara massal. Tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian ritual adat bersih desa yang digelar setiap tahun untuk menyambut bulan haji.

Ritual Mepe Kasur tidak hanya sekadar menjemur alas tidur. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi pembuka dari rangkaian besar festival adat Tumpeng Sewu yang berlangsung selama dua hari, yakni pada 21 hingga 22 Mei 2026. Setelah prosesi penjemuran selesai pada siang hari, warga dan wisatawan yang hadir dimanjakan dengan pertunjukan kesenian Kuntulan. Acara kemudian berlanjut dengan arak-arakan Barong keliling desa pada sore hari. Puncaknya, pada malam harinya digelar selamatan Tumpeng Sewu dan pembacaan Mocoan Lontar Yusuf.

Makna di Balik Warna Merah dan Hitam

Salah seorang warga desa setempat yang akrab disapa Mbah Pi’i menjelaskan bahwa warna merah dan hitam pada kasur yang dijemur bukanlah pilihan tanpa makna. “Merah melambangkan keberanian, sedangkan hitam berarti kelanggengan. Ini jadi simbol bahwa dalam rumah tangga, kita harus berani dan langgeng dalam menjalaninya,” ungkap Mbah Pi’i. Kombinasi warna tersebut dipercaya membawa doa dan harapan bagi kehidupan rumah tangga setiap keluarga.

Sementara itu, Ketua Adat Kemiren, Suhaimi, memberikan penjelasan lebih mendalam tentang filosofi di balik tradisi ini. Menurutnya, bagi masyarakat Osing, kasur dianggap sebagai benda yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kasur wajib dibersihkan secara ritual, tidak cukup hanya dengan cara biasa. “Menjemur kasur dimulai sejak matahari terbit hingga menjelang tengah hari. Saat menjemur, warga membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman rumah, tujuannya agar dijauhkan dari bencana dan penyakit,” kata Suhaimi.

Aturan Adat yang Tidak Boleh Dilanggar

Tradisi Mepe Kasur memiliki aturan yang sangat ketat. Seluruh kasur yang dijemur harus sudah dimasukkan kembali ke dalam rumah sebelum matahari terbenam. Masyarakat percaya bahwa jika aturan adat ini dilanggar, khasiat spiritual kasur untuk menangkal penyakit serta membawa berkah bagi rumah akan berkurang. “Kalau sampai sore ya nanti khasiatnya menurun. Apalagi kalau kemalaman. Bisa ndak sehat,” tambah Suhaimi.

Menariknya, selain warna dan waktu penjemuran, ketebalan kasur gantung juga memiliki makna tersendiri dalam status sosial masyarakat. Semakin tebal kasur yang dijemur, semakin tinggi tingkat kesejahteraan pemiliknya. Tak hanya itu, setiap pasangan yang baru menikah di Desa Kemiren akan mendapatkan kasur jenis tersebut dari orang tua mereka sebagai simbol ikatan keluarga yang kuat.

Tradisi Mepe Kasur dan rangkaian Tumpeng Sewu menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Osing tidak hanya menjaga kebersihan lahir dan batin, tetapi juga terus merawat nilai kebersamaan antarmasyarakat hingga saat ini. Wisatawan yang berkunjung pun dapat menyaksikan langsung keunikan tradisi yang hanya muncul setahun sekali ini. (*)