Dua Dekade Lumpur Sidoarjo Menggerus Sungai Porong, Ikan Alami Kerusakan Insang dan Sisik
BeritaHarianJatim.com, SURABAYA – Selama dua puluh tahun, semburan lumpur panas di Sidoarjo terus mengalir deras tanpa henti. Sungai Porong, yang menjadi muara utama material pekat itu, kini mengalami perubahan ekosistem secara drastis. Penelitian terbaru dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengungkap kerusakan parah pada kehidupan akuatik di perairan tersebut, mulai dari kerusakan insang hingga kelainan struktur sisik ikan.
Prof. Dewi Hidayati, pakar Ekotoksikologi ITS, memaparkan temuannya setelah meneliti dampak jangka panjang endapan lumpur. Sungai Porong selama ini berfungsi sebagai penampung luapan tanpa melalui proses filtrasi. Akibatnya, sedimentasi massal memicu kekeruhan air yang ekstrem di sepanjang aliran. “Sedimentasi masif memicu lonjakan kekeruhan air secara ekstrem di sepanjang aliran sungai dan mengubah komposisi substrat secara nyata,” ujar Dewi, Sabtu (30/5/2026).
Dasar sungai yang dulu berupa pasir dan kerikil kini tertutup lapisan tanah liat halus. Partikel lumpur mikro tersebut terbukti menyumbat saluran pernapasan ikan, terutama bagian filamen insang. “Paparan lumpur ini memicu kerusakan jaringan insang yang parah, seperti hiperplasia hingga nekrosis sel,” jelasnya. Gangguan pernapasan ini diperparah dengan hancurnya lapisan pelindung luar tubuh ikan. Pengamatan mikroskop elektron menunjukkan kerusakan fatal pada struktur sisik.
“Deformasi pada sel penempel menyebabkan sisik ikan menjadi abnormal, mudah terlepas, dan rentan memicu infeksi mikroorganisme,” papar Dewi. Tekanan lingkungan yang ekstrem ini mengeliminasi spesies ikan lokal yang sensitif terhadap air keruh. Proses seleksi alam perlahan mengubah komposisi biota di perairan hilir. Spesies tangguh seperti ikan keting, belanak, dan beloso kini mendominasi, menggantikan jenis-jenis yang tidak mampu beradaptasi.
Meskipun ekosistem sungai alami degradasi berat, kawasan pertambakan udang di sekitar muara masih relatif aman. Daratan alami di area tersebut berfungsi sebagai penyaring mekanis terhadap luapan lumpur. “Keberadaan bentang alam ini menjaga komoditas pangan masyarakat yang berada agak jauh dari titik semburan tetap higienis,” jelasnya. Namun, ancaman lain muncul dari kandungan logam berat, terutama aluminium dan besi, yang terdeteksi dalam konsentrasi tinggi. Pencemaran udara berupa gas metana dan belerang juga masih terdeteksi di pusat semburan.
“Tingkat racun dari logam aluminium ini sangat berbahaya jika derajat keasaman atau pH air berubah menjadi asam,” urai Dekan Fakultas Sains dan Analitika Data ITS itu. Kondisi di hulu sungai yang bebas lumpur sangat kontras dengan wilayah hilir. Stasiun pemantauan di hulu mencatat mutu air stabil dengan ikan-ikan bersisik sehat dan insang normal. “Sebaliknya, stasiun hilir mengalami degradasi parah berkategori terbatas sehingga hanya biota air tertentu yang mampu hidup di area tersebut,” cetusnya.
Kesenjangan lingkungan ini diharapkan menjadi peringatan dini bagi pemerintah. Data biologi tersebut dapat digunakan sebagai dasar kebijakan pemulihan kawasan secara terintegrasi. “Upaya ini sangat penting untuk merancang langkah nyata dalam mencegah dampak buruk kerusakan lingkungan yang berkelanjutan,” tandas Dewi. (*)
