Budidaya Ayam Sengkuni di Pekarangan Sempit, Warga Ponorogo Raup Omzet Ratusan Ribu Per Ekor

BeritaHarianJatim.com, PONOROGO – Peternak di Kabupaten Ponorogo mulai melirik ayam Sengkuni. Jenis unggas ini merupakan hasil persilangan antara ayam kampung asli Jawa dengan beberapa ras unggulan. Pertumbuhannya cepat dan permintaan pasar terus meningkat.

Salah satu yang membudidayakan adalah Suprapto, warga Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel. Ia memanfaatkan lahan terbatas di belakang rumahnya, hanya sekitar 2 meter, untuk membangun kandang. Dari area sempit itu, Suprapto mampu mengembangkan ribuan ekor ayam Sengkuni. Usaha ini sudah berjalan enam bulan dan menjadi sumber penghasilan tambahan keluarga.

Suprapto menegaskan, keterbatasan lahan bukan alasan untuk tidak berwirausaha di bidang peternakan. “Di lahan sempit ini, saya manfaatkan untuk ternak ayam jenis Sengkuni. Ini sangat membantu untuk menopang ekonomi. Peliharanya juga cukup mudah,” ujarnya pada Minggu (10/5/2026).

Perawatan harian tergolong sederhana. Ayam Sengkuni diberi pakan bernutrisi dua kali sehari, pagi dan sore. Suprapto juga menambahkan bahan alami seperti daun sirih dan kunyit ke pakan atau minuman. Cara ini dilakukan untuk menjaga stamina ayam dan mendukung pertumbuhan yang sehat serta produktif.

Dari segi kualitas, ayam Sengkuni memiliki keunggulan dibanding beberapa jenis ayam pedaging lain. Pertumbuhannya cepat, dagingnya tebal, dan rasanya mirip ayam kampung. Masa panen pun singkat, hanya sekitar 2,5 bulan. Permintaan pasar yang tinggi, terutama pada akhir pekan, membuat produksi terus meningkat. Dalam sebulan, Suprapto bisa menjual hingga seribu ekor ke pasar lokal. Harga jual per ekor antara Rp50 ribu hingga Rp70 ribu, tergantung ukuran dan bobot.

“Pertumbuhannya cepat sekali, cuma 2 bulan, sudah bisa dikonsumsi. Ayam Sengkuni memang dimanfaatkan untuk dagingnya. Lebih gemuk terus teksturnya juga enak,” pungkas Suprapto. Tren permintaan yang naik membuat ayam Sengkuni menjadi pilihan baru bagi peternak di Ponorogo. Jenis ini dinilai potensial sebagai peluang usaha berbasis pekarangan yang mampu mendukung ketahanan ekonomi keluarga di pedesaan. (*)