Joki UTBK di Unesa Ternyata Dipesan dari Madura, Targetnya Jurusan Kedokteran di PTN Jawa Timur

BeritaHarianJatim.com, SURABAYA – Praktik perjokian dalam pelaksanaan UTBK-SNBT 2026 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengungkap fakta baru. Peserta yang menggunakan jasa joki ternyata berasal dari Madura. Ia mendaftar pada jurusan kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof Dr Martadi, M.Sn., mengungkapkan bahwa temuan ini terjadi pada hari pertama pelaksanaan ujian. “Temuan kemarin ada di sesi pertama, di gedung rektorat. Kasus ini sebenarnya sudah kami deteksi dari data awal menggunakan Generate AI, dengan tingkat kemiripan foto hampir 95 persen,” ujar Martadi.

Foto yang digunakan peserta tersebut ternyata pernah dipakai pada pendaftaran UTBK tahun sebelumnya di kampus lain. Namun saat itu, peserta tidak hadir karena diduga sudah terdeteksi dalam kasus serupa di daerah lain. “Tahun ini dia menggunakan foto yang sama, tetapi dengan nama berbeda. Dari situ kami telusuri dan akhirnya saat hari pertama mereka berani datang,” katanya.

Panitia tetap mengizinkan peserta mengikuti ujian hingga selesai. Setelah itu, mereka diamankan dan diperiksa lebih lanjut. “Setelah selesai ujian, kami langsung berkoordinasi dengan kepolisian dan tim supervisi nasional. Dari hasil pendalaman, yang bersangkutan mengaku sebagai joki,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui praktik ini melibatkan jaringan berlapis. Para joki direkrut di sebuah kafe. Mereka tidak saling mengenal satu sama lain. “Mereka direkrut, disiapkan semua dokumen, mulai KTP hingga ijazah asli dengan stempel basah, hanya fotonya yang diganti. Ini menunjukkan jaringan yang sangat sistematis,” kata Martadi.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa peserta yang dijoki berasal dari Madura. “Yang dijoki dari Madura. Mengambil jurusan kedokteran di PTN di Jawa Timur,” ungkapnya. Kecurigaan semakin kuat saat pelaku tidak mampu berbahasa Madura meski mengaku berasal dari daerah tersebut. “Ketika kami tanya pakai bahasa Madura, dia tidak bisa. Berarti memang dia hanya mengaku-aku,” katanya.

Saat ini, Unesa telah melaporkan kasus ini ke kepolisian. Namun, laporan sementara masih difokuskan pada pelaku joki. “Sementara yang kami laporkan adalah jokinya, karena pelanggaran terjadi di wilayah kami. Tapi ke depan, tidak menutup kemungkinan pemesan juga akan ditelusuri,” ujarnya.

Martadi menegaskan bahwa baik joki maupun peserta yang menggunakan jasa joki akan dikenai sanksi tegas. Sanksinya berupa pembatalan hasil ujian dan blacklist untuk masuk perguruan tinggi negeri. “Kalau sudah terbukti, baik joki maupun yang dijoki otomatis digugurkan dan diblacklist dari PTN,” ucapnya.

Pelaku berinisial H, laki-laki berusia sekitar 23–24 tahun. Martadi menduga pelaku merupakan individu terlatih dan bagian dari jaringan nasional. “Yang bersangkutan sangat tenang, tidak menunjukkan rasa gugup. Ini menunjukkan mereka cukup profesional,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, Unesa memperketat prosedur pelaksanaan ujian. Langkah tersebut meliputi pengamanan barang bawaan peserta dan pemeriksaan lebih detail untuk mencegah penggunaan alat komunikasi tersembunyi. “Kami ingin menjaga integritas. Jangan sampai praktik seperti ini mencederai nilai kejujuran dalam dunia pendidikan,” pungkas Martadi. (*)