4 Kelebihan Makanan Siap Santap Nusantara, Jemaah Haji Tak Perlu Repot Masak Saat Armuzna

BeritaHarianJatim.com, MAKKAH – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia memutuskan menggunakan skema makanan siap santap (ready to eat) dengan cita rasa Nusantara selama puncak Armuzna. Keputusan ini diambil demi menjamin kecepatan distribusi nutrisi dan menjaga kebugaran fisik para jemaah haji. Langkah logistik ini dipilih sebagai solusi paling aman untuk menghilangkan kekhawatiran jemaah maupun keluarga di tanah air terkait risiko keterlambatan pasokan katering di tengah kepadatan jutaan manusia.

Wartawan BeritaHarianJatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, jaminan pemenuhan gizi praktis ini menjadi instrumen perlindungan vital bagi 182.332 jemaah reguler Indonesia yang kini telah memadati akomodasi pemondokan Makkah. Berdasarkan data operasional hari ke-29 per Selasa (19/5/2026), total jemaah yang telah diberangkatkan dari tanah air mencapai 186.041 orang dari 481 kloter. Rombongan besar asal berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur (Embarkasi Surabaya/SUB) kini bersiap menghadapi tantangan cuaca panas ekstrem Makkah yang menyentuh angka 44 derajat Celsius.

Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, memaparkan bahwa pemenuhan gizi di area Arafah, Muzdalifah, dan Mina berkejaran dengan waktu operasional yang sangat sempit dan kompleks. “Fase Armuzna merupakan periode yang sangat padat dan kompleks. Distribusi makanan dalam jumlah besar pada waktu bersamaan membutuhkan koordinasi lintas sektor, pengaturan logistik yang presisi, dan kesiapan transportasi yang optimal,” urai Maria dalam konferensi pers di Makkah.

Empat Kelebihan Utama Teknologi Siap Santap

Maria menjelaskan bahwa ada empat pertimbangan saintifik dan operasional di balik keputusan mempercayakan asupan jemaah pada menu siap saji ini. Kelebihan pertama adalah menjamin kecepatan distribusi logistik langsung ke hotel-hotel jemaah. Kedua, memberikan kemudahan konsumsi instan di tengah mobilitas tinggi selama Armuzna tanpa perlu proses memasak ulang di tenda Masyair. Ketiga, memiliki masa kedaluwarsa yang lebih panjang dan adaptif terhadap suhu ekstrem Arab Saudi. Keempat, mempertahankan standar kebersihan, higienitas, serta pemenuhan nilai gizi makro yang dibutuhkan tubuh jemaah.

Dengan memanfaatkan teknologi pengolahan dan pengemasan tingkat tinggi, struktur lauk pauk dipastikan steril dari kontaminasi bakteri tanpa merusak vitamin maupun cita rasa aslinya. “Teknologi pengolahan makanan yang digunakan memungkinkan makanan tetap higienis dan aman dikonsumsi dalam jangka waktu lebih panjang tanpa mengurangi kualitasnya,” tambah Maria. Menu familier seperti rendang dan masakan khas Indonesia lainnya sekaligus berfungsi sebagai obat rindu kampung halaman bagi jemaah.

Regulasi Pemisahan 15 Porsi Armuzna dan 6 Porsi Hotel

Kemenhaj menegaskan adanya regulasi pemisahan distribusi katering agar hak makan jemaah terpenuhi secara utuh tanpa tertukar atau antrean panjang. Selama berada di area inti ritual Armuzna (8 hingga 13 Dzulhijjah), jemaah akan mendapatkan 15 porsi makanan siap santap utama yang disediakan oleh dua syarikah resmi Arab Saudi, yaitu Rakeen Mashariq dan Albait Guest. Sebagai pendukung transisi pergerakan massa, jemaah juga dibekali 6 porsi makanan siap santap tambahan untuk dikonsumsi di kamar hotel pada fase pra dan pasca-Armuzna (7, 8, dan 13 Dzulhijjah 1447 H) yang bertepatan dengan tanggal 24, 25, dan 30 Mei 2026.

Sektor logistik transisi di hotel ini disuplai oleh tiga produsen asal Indonesia yang lolos uji mutu BPOM dan SFDA, yakni PT Halalan Thayyiban Indonesia, PT Indo Niaga Agro, dan PT Laukita Bersama Indonesia. Untuk mengantisipasi penghentian operasional bus shalawat menjelang pendorongan jemaah ke Arafah yang dijadwalkan bergerak bergelombang mulai Senin, 25 Mei mendatang, Kemenhaj menetapkan batas waktu pengiriman. Seluruh pasokan 6 porsi makanan hotel tersebut wajib rampung terdistribusi ke kamar-kamar jemaah pada 6 Dzulhijjah 1447 H atau Sabtu, 23 Mei 2026.

“Kami memahami kualitas konsumsi sangat memengaruhi kondisi fisik jemaah. Karena itu pengawasan dilakukan ketat mulai dari produksi, pengemasan, hingga distribusi,” tegas Maria seraya mengimbau jemaah agar disiplin mematuhi jadwal kloter, membatasi aktivitas fisik sunnah di luar ruang, serta wajib menghidrasi tubuh dengan air putih minimal 200 ml per jam. (*)