KAI Daop 8 Surabaya Buka Suara soal Video Viral Percikan Api dari Lokomotif di Jalan Ahmad Yani

BeritaHarianJatim.com, SURABAYA – Sebuah video yang memperlihatkan lokomotif kereta api mengeluarkan percikan api saat melintas di kawasan Jalan Ahmad Yani, Surabaya, viral di media sosial. Masyarakat pun bertanya-tanya apakah kejadian itu berbahaya.

Manajer Humas KAI Daop 8 Surabaya, Mahendro Trang Bawono, memberikan penjelasan. Ia mengatakan bahwa fenomena tersebut merupakan kondisi teknis yang wajar terjadi pada lokomotif diesel. Percikan api tidak membahayakan perjalanan kereta api.

“Percikan api yang terlihat pada video tersebut terjadi akibat proses pembakaran bahan bakar diesel yang tidak sempurna di dalam mesin lokomotif. Kondisi ini dapat dipicu oleh peningkatan tenaga atau notch yang tidak dilakukan secara bertahap,” jelas Mahendro, Rabu (15/4).

Ia menambahkan bahwa pada lokomotif jenis CC 201/203, notch adalah pengaturan tingkat tenaga atau kecepatan dari level 1 hingga 8. Jika notch naik secara tiba-tiba, dapat memunculkan percikan api sesaat dari cerobong lokomotif. Fenomena ini bersifat sementara dan tidak berdampak pada keselamatan operasional maupun pelanggan.

“Kami memastikan bahwa seluruh perjalanan kereta api tetap berjalan dengan aman. Awak sarana, khususnya masinis, telah dibekali kompetensi dan menjalankan operasional sesuai standar yang berlaku,” tuturnya.

KAI Daop 8 Surabaya secara rutin melakukan perawatan berkala pada seluruh armada lokomotif. Mereka juga meningkatkan pengawasan operasional agar proses pembakaran optimal dan mencegah kondisi serupa. Selain itu, KAI terus memperkuat kompetensi masinis dalam pengaturan notch secara tepat dan bertahap.

KAI Daop 8 Surabaya mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak khawatir dengan fenomena dalam video tersebut. Keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pelanggan selalu menjadi prioritas utama.

“KAI berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan transportasi yang selamat, aman, dan andal, serta memberikan edukasi kepada masyarakat agar memperoleh informasi yang utuh dan tidak menimbulkan kesalahpahaman,” kata Mahendro. (*)