Bediding di Jawa Timur: Ancaman ISPA dan Kerusakan Tanaman, Warga Diminta Waspada

BeritaHarianJatim.com, SURABAYA – Memasuki musim kemarau, masyarakat Jawa Timur kembali merasakan fenomena bediding. Udara pada malam hingga pagi hari terasa sangat dingin, terutama di wilayah pegunungan. Meskipun memberi kesejukan dan langit cerah, bediding menyimpan sejumlah risiko yang tidak bisa diabaikan, mulai dari meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan hingga gagal panen akibat embun beku.

Apa Itu Bediding dan Mengapa Terjadi?

Bediding adalah istilah lokal untuk penurunan suhu udara ekstrem pada malam dan dini hari selama musim kemarau. Fenomena ini terjadi akibat hembusan angin Monsun Timur yang membawa massa udara dingin dan kering dari Benua Australia. Karena Australia sedang mengalami musim dingin, sifat dingin itu terbawa hingga ke wilayah selatan Indonesia, termasuk Jawa Timur.

Faktor lain yang memperparah bediding adalah langit yang cerah tanpa awan. Pada siang hari, panas matahari diserap permukaan bumi, lalu pada malam hari panas tersebut cepat lepas ke atmosfer karena tidak ada awan yang menahannya. Kelembapan udara yang rendah juga mempercepat pelepasan panas, sehingga sensasi dingin terasa lebih menusuk.

Dampak Kesehatan dan Pertanian

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan paling berisiko terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), flu, dan batuk. Udara kering juga menyebabkan kulit dan bibir cepat pecah-pecah karena kelembapan alami yang hilang.

Bagi petani di dataran tinggi, ancaman terbesar adalah embun upas atau embun beku. Kristal es yang terbentuk di permukaan daun dapat merusak jaringan tanaman hortikultura. Jika embun beku terjadi berhari-hari, hasil panen bisa anjlok. Pendaki gunung juga harus waspada terhadap hipotermia, sementara peternak perlu memastikan kandang ternak cukup hangat.

Manfaat di Balik Dingin yang Menusuk

Namun, bediding tidak hanya membawa dampak negatif. Udara terasa lebih segar dan nyaman berkat kelembapan rendah. Langit yang bersih tanpa awan menjadi pemandangan ideal untuk mengamati benda-benda langit, seperti gugusan bintang, hujan meteor, atau fenomena astronomi lainnya. Pagi hari juga menawarkan visibilitas yang lebih baik, menguntungkan sektor pariwisata pegunungan yang menyuguhkan panorama matahari terbit.

Tips Menghadapi Bediding

Masyarakat diimbau mengenakan pakaian hangat, mengonsumsi makanan bergizi, dan memperbanyak minum air putih untuk menjaga daya tahan tubuh. Petani disarankan memantau potensi embun beku dan melindungi tanaman yang sensitif terhadap suhu rendah. Para pendaki wajib membawa perlengkapan yang sesuai, seperti sleeping bag berkualitas dan pakaian berlapis, agar suhu tubuh tetap stabil. (*)