Angka Laporan Kekerasan Perempuan dan Anak di Probolinggo Minim, Polisi Sebut Banyak Korban Pilih Diam
BeritaHarianJatim.com, PROBOLINGGO – Jumlah pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah Kota Probolinggo tercatat sebagai salah satu yang terendah. Namun, kondisi ini tidak serta-merta mencerminkan realitas sesungguhnya. Di balik statistik yang minim itu, diduga masih banyak korban yang tidak berani melapor ke aparat penegak hukum. Ketakutan akan ancaman pelaku, rasa malu, serta tekanan dari lingkungan sosial menjadi alasan utama mengapa banyak kasus tidak terungkap ke permukaan.
Fakta ini menjadi sorotan serius bagi Satuan Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (Satres PPA) Polres Probolinggo Kota. Aparat kepolisian kini gencar melakukan pendekatan preventif melalui edukasi dan kampanye publik. Tujuannya agar para korban maupun masyarakat sekitar tidak lagi ragu untuk melaporkan setiap bentuk tindak kekerasan yang mereka saksikan atau alami.
Kasatres PPA Polres Probolinggo Kota, Rini Ifo Nila, mengakui bahwa jumlah perkara yang ditangani sejak awal Januari 2026 tergolong paling rendah jika dibandingkan dengan satuan serupa di daerah lain. Namun, ia menegaskan bahwa rendahnya laporan bukan berarti tingkat kekerasan di wilayah hukum Polres Probolinggo Kota benar-benar sedikit. “Perkara yang ditangani oleh Satres PPA dan PPO Polres Probolinggo Kota termasuk yang paling rendah jika dibandingkan dengan wilayah lain,” ujar Rini saat dikonfirmasi pada Jumat (22/5/2026) sore.
Menurut Rini, minimnya laporan justru menjadi tantangan besar bagi aparat. Banyak korban yang masih merasa terintimidasi, baik oleh pelaku maupun lingkungan, sehingga memilih memendam sendiri penderitaan mereka. Untuk memutus rantai ketakutan tersebut, Polri meluncurkan kampanye bernama Rise and Speak yang menyasar kelompok rentan, termasuk remaja di lingkungan sekolah. Kampanye ini bertujuan membangun keberanian korban agar mau bersuara dan mengetahui hak-hak mereka atas perlindungan hukum.
“Selama ini Polri sudah berkampanye bertajuk Rise and Speak dengan sasaran kelompok rentan di masyarakat dan sekolah-sekolah,” katanya. Selain itu, Satres PPA juga tidak bekerja sendiri. Mereka berkolaborasi dengan Dinas Sosial dan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) untuk memperluas jangkauan edukasi serta menyediakan akses pengaduan yang lebih mudah bagi masyarakat. “Satres PPA dan PPO juga tidak berjalan sendiri dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Ada Dinsos dan Puspaga yang juga memiliki akses yang sama untuk memberikan pemahaman di masyarakat,” imbuh Rini.
Rini berharap masyarakat tidak lagi merasa takut atau ragu untuk melapor ketika mengalami atau menyaksikan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menurutnya, keberanian korban untuk berbicara menjadi langkah awal yang sangat penting dalam memutus mata rantai kekerasan yang selama ini kerap tersembunyi. “Agar masyarakat tidak ragu untuk datang dan melapor kepada kepolisian apabila menemui atau mengalami tindak kekerasan baik kepada perempuan maupun anak-anak,” pungkasnya. (*)
