Kebijakan Jam Malam Dinilai Berhasil, Angka Kenakalan Remaja di Surabaya Turun Drastis
BeritaHarianJatim.com, SURABAYA – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya mencatat penurunan signifikan angka kenakalan remaja. Kepala DP3APPKB Surabaya, Ida Widayati, mengungkapkan bahwa tahun lalu terdapat lebih dari 450 kasus yang ditangani. Namun, tahun ini jumlahnya turun drastis hingga di bawah 100 kasus.
Ida menilai keberhasilan ini tidak lepas dari kebijakan jam malam. “Kebijakan pembatasan aktivitas malam hari menjadi salah satu faktor penting dalam menekan potensi kenakalan remaja,” ujar Ida, Senin (21/4).
Selain jam malam, perubahan pendekatan dalam penanganan anak yang terjaring juga menjadi kunci utama. Dulu, anak-anak yang kedapatan melakukan pelanggaran hanya menjalani konseling singkat di markas Satpol PP sebelum dipulangkan. Sekarang, pihaknya menerapkan model pembinaan yang lebih intensif. “Anak-anak yang terlibat dalam kasus seperti konsumsi minuman keras, tawuran, hingga keterlibatan geng motor, tidak langsung dipulangkan. Mereka terlebih dahulu ditempatkan di Rumah Aman untuk mendapatkan pembinaan menyeluruh,” bebernya.
Program pembinaan di Rumah Aman berlangsung selama 7 hingga 14 hari. Selama masa itu, anak-anak tidak hanya mendapat pendampingan psikologis, tetapi juga tetap difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan. “Program ini sendiri telah berjalan sejak pertengahan tahun lalu dan secara bertahap menunjukkan dampak positif. Jumlah anak yang harus menjalani pembinaan di rumah aman kini semakin berkurang, seiring meningkatnya kesadaran dan efek jera dari pendekatan yang diterapkan,” jelasnya.
Meski demikian, Ida tetap mengingatkan pentingnya peran keluarga dan lingkungan. Edukasi kepada orang tua perlu ditingkatkan agar pengawasan terhadap anak lebih optimal. Dengan kombinasi kebijakan preventif seperti jam malam dan pembinaan yang komprehensif, tren penurunan kenakalan remaja diyakini dapat terus terjaga. Hal ini sekaligus menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang generasi muda.
“Kami berharap anak-anak muda bisa memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang positif. Karena perilaku negatif tidak hanya berdampak secara sosial, tetapi juga sangat mempengaruhi kondisi psikologis dan masa depan mereka,” pungkas Ida. (*)
