Trionda, Bola Piala Dunia 2026, Lahir dari Desa Kedungrejo Madiun

BeritaHarianJatim.com, MADIUN – Bola resmi Piala Dunia 2026 yang bernama Trionda sudah resmi digunakan di turnamen yang digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Di balik kecanggihan teknologinya, ada kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Sebab, Trionda lahir dari tangan-tangan terampil pekerja di Desa Kedungrejo, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun. Pabrik PT Global Way Indonesia di daerah itu menjadi tempat produksi bola resmi edisi kali ini.

Ini merupakan pengalaman kedua bagi fasilitas produksi di Madiun setelah sebelumnya mereka juga memproduksi Al Rihla untuk Piala Dunia 2022 di Qatar. Perwakilan PT Global Way Indonesia, Rina, membenarkan bahwa seluruh proses produksi telah rampung. “Proses produksinya sudah rampung. Sekarang bolanya sudah digunakan dalam pertandingan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (2/7/2026). Perusahaan memang sudah lama menjadi mitra manufaktur Adidas untuk bola-bola resmi ajang akbar, tetapi untuk lokasi pabrik di Madiun, baru kali ini dan sebelumnya yang menjadi catatan sejarah.

Trionda sendiri hadir dengan sejumlah inovasi menarik. Desainnya hanya terdiri dari empat panel, jumlah yang paling sedikit dalam sejarah bola Piala Dunia. Konfigurasi ini diklaim mampu meningkatkan stabilitas dan akurasi saat digunakan. Tak hanya itu, bola ini juga dilengkapi sensor di bagian inti. Teknologi Connected Ball tersebut memungkinkan pengiriman data secara langsung untuk mendukung sistem offside semiotomatis dan membantu wasit mengambil keputusan krusial di lapangan.

Kombinasi warna pada Trionda merepresentasikan identitas ketiga negara tuan rumah. Nama Trionda sendiri diambil dari gabungan kata tri yang berarti tiga dan onda yang dalam bahasa Spanyol berarti gelombang. Kolaborasi tiga negara itu menjadi simbol dari semangat kebersamaan dalam turnamen kali ini.

Kepercayaan yang kembali diberikan kepada PT Global Way Indonesia membuktikan bahwa kualitas produk manufaktur dari Madiun mampu menembus standar internasional. Dari kawasan industri di Pilangkenceng, tenaga kerja Indonesia kembali berperan dalam perhelatan sepak bola paling akbar di planet ini. (*)