Harga Telur Terjun Bebas, Peternak dan Pedagang Magetan Merugi

BeritaHarianJatim.com, MAGETAN – Harga telur ayam di pasaran Kabupaten Magetan anjlok dalam sebulan terakhir. Para peternak hingga pedagang kini kesulitan menjual hasil produksi. Di tingkat peternak, harga telur berada di bawah Rp22.800 per kilogram. Angka itu jauh dari cukup untuk menutup biaya produksi yang justru terus melejit. Kondisi ini paling dirasakan oleh peternak ayam petelur di Desa Cepoko, Kecamatan Panekan.

Soni Suwarno, salah satu peternak di desa tersebut, mengaku pusing. Sebanyak 1,2 ton telur hasil panennya belum laku dan masih menggunung di gudang. Padahal, 10 ribu ekor ayam petelur di kandangnya sebentar lagi akan masuk masa panen berikutnya. Stok telur pun bertambah setiap hari sementara serapan pasar sangat rendah. “Kondisi kami para peternak cukup menyakitkan, harga anjlok, harga pakan naik, dan telur sulit dijual,” keluh Soni pada Minggu (10/5/2026).

Dulu, harga telur di tingkat peternak masih sekitar Rp25 ribu per kilogram. Kini merosot tajam. Di saat yang sama, biaya pakan ternak justru naik. Harga konsentrat melonjak dari Rp400 ribu menjadi Rp450 ribu per sak (50 kilogram). Jagung naik dari Rp6 ribu menjadi Rp6.500 per kilogram. Katul juga ikut naik, dari Rp3.500 menjadi Rp4.500 per kilogram.

Penurunan daya beli pasar terlihat jelas dari jumlah kotak telur yang terjual. Sebelumnya, Soni mampu menjual sekitar 40 kotak per hari (satu kotak berisi 15 kilogram). Kini, penjualan hanya tersisa 10 hingga 15 kotak per hari. Sisa telur yang tidak laku terpaksa disimpan di gudang. Kekhawatiran pun muncul. Telur bisa busuk atau kualitasnya menurun jika terlalu lama mengendap. Akibatnya, peternak terancam rugi besar bahkan gulung tikar.

Di Desa Cepoko saja, ada sekitar 40 peternak ayam petelur dengan nasib yang sama. Rendahnya serapan pasar dan melimpahnya produksi telur menjadi biang kerok. Para peternak berharap pemerintah turun tangan, misalnya dengan meningkatkan penyerapan telur lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka butuh kepastian agar kandang-kandang mereka tetap berproduksi tanpa merugi.

Namun bukan hanya peternak yang tertekan. Para pedagang telur di Pasar Sayur Magetan juga ikut merasakan dampaknya. Sri Martini, salah satu pedagang, mengaku penjualan telurnya ambruk. “Sulitnya karena tidak ada yang beli sejak sebulan terakhir, stok barang jadi menumpuk seperti ini,” ujarnya. Dulu dalam sehari ia bisa menjual tujuh sampai delapan kotak telur. Kini, tidak sampai satu kotak pun terjual. Harga jual telur di pasar kini berada di kisaran Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.

Sebelumnya, pada Rabu (6/5/2026), para peternak ayam petelur di Magetan sudah menggelar aksi protes. Mereka berkumpul di Simpang Empat Alun-Alun Magetan. Sebanyak 3 ton telur dibagikan gratis kepada pengguna jalan sebagai bentuk protes. Aksi itu menjadi simbol keputusasaan para peternak menghadapi harga telur yang jatuh dan biaya produksi yang tak terkendali. (*)