Merangkai Asa dari Kain Bekas: Kisah Ketekunan Sujinah dan Sugito Melampaui Rintangan Hidup
BeritaHarianJatim.com, KEDIRI – Di sebuah rumah sederhana yang berdiri di Dusun Kebonagung, Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kediri, suara mesin jahit selalu terdengar setiap hari. Pemilik rumah itu adalah Sujinah (61) dan Sugito (61). Mereka berdua menyandang disabilitas, namun sama sekali tidak menyerah pada keadaan. Keterbatasan fisik justru mereka lampaui dengan karya nyata. Kain perca yang tak terpakai mereka sulap menjadi aneka kerajinan bernilai jual tinggi. Usaha ini mereka beri nama Trimo Luwung Collection, yang juga akrab disebut KKP atau Kerajinan Kain Perca.
Sujinah sudah menggeluti dunia jahit sejak lama. Keahliannya ia dapatkan setelah lulus sekolah pada tahun 1997. Bahkan ia pernah menjadi instruktur di LPK Loka Bina Karya. Namun hidupnya berubah total pada tahun 2015. Kecelakaan hebat membuat ia harus menghabiskan sisa hidup di atas kursi roda. “Kalau jahit saya sudah lama mbak, sejak lulus sekolah, jahit seragam-seragam mulai dari TK sampai SMP, bordil ya juga bisa saya dulu,” kenang Sujinah saat ditemui di kediamannya, Sabtu (9/5/2026).
Setelah kecelakaan itu, pesanan jahitan pakaian mulai berkurang drastis. Tapi perempuan tangguh ini tidak mau diam. Ia mulai melirik kain perca sebagai peluang baru. Bahan baku ia datangkan dari Plemahan, Wates, hingga Pagu. Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari keset, dompet, hiasan dinding atau jampel, tatakan gelas, hingga tas selempang. “Ya, jahinya kan nggak ramai kaya mbiyen, terus tak selingi kain perca, terus saya datangkan perca kaos dari Plemahan sampai sekarang,” ujarnya.
Nama Trimo Luwung dipilih sebagai cermin sikap hidup. Sujinah menerima apa pun yang diberikan Tuhan dengan lapang dada, namun tetap berusaha memberi hasil terbaik. Kegigihannya membuahkan hasil. Berkat dukungan teman sekolah dan komunitas yang memasarkan produk dari mulut ke mulut, pesanan mulai berdatangan dari berbagai kota. Tas selempang batik dan jampel buatannya sudah dikenal hingga Malang, Jombang, Jogja, bahkan sampai ke Pulau Kalimantan.
Harga produknya sangat terjangkau. Mulai dari lima ribu rupiah hingga lima puluh lima ribu rupiah untuk tas wanita yang modis. Kesuksesan ini juga tidak lepas dari peran putri mereka yang kini berusia 22 tahun. Sang anak sudah membantu sejak masih duduk di bangku MTs. Ia menjadi ujung tombak pemasaran digital melalui media sosial Facebook dan platform Shopee. “Kadang ya anakku kuwi, Mbak, mulai MTS, Aliyah, apa Aliyah kuwi ya masarne. Bantu,” tutur Sujinah dengan nada penuh kebanggaan.
Bukan cuma itu, Sujinah juga ingin memberdayakan teman-teman sesama disabilitas. Ia kerap melibatkan mereka dalam proses produksi, terutama pembuatan keset. Tugas dibagi dari pemotongan bahan hingga penyelesaian akhir agar mereka semua memiliki penghasilan. Rumahnya pun sering menjadi tempat belajar menjahit bagi ibu-ibu sekitar. Menurut Sujinah, berbagi ilmu adalah cara paling berarti untuk memberi manfaat kepada sesama.
Pasangan suami istri ini telah membuktikan bahwa kemandirian ekonomi bisa dibangun dari ketekunan. Dari limbah kain perca, mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari tetapi juga berhasil membiayai kuliah putri mereka. Sujinah percaya bahwa kunci utama menghadapi segala ujian hidup adalah rasa percaya diri. “Yang penting yo dek, wong ngene ki, ya telaten, terus percaya diri, ngono toh. Latihan percaya diri, pokoknya wis nggak usah menggebu-gebu ning ngene-ngene. Mesti anu enek jalanne,” ungkapnya dengan penuh arti.
Masa depan masih terbuka lebar. Di balik kursi rodanya, Sujinah terus memikirkan inovasi baru. Ia ingin produk kerajinan kain perca buatannya tampil lebih modern dan mengikuti tren pasar. Selagi kesehatan masih terjaga, ia ingin terus berkarya tanpa henti. “InsyaAllah kalau masih sehat, pingin buat model-model tas kain perca lain yang lebih modern dan trendi,” tegasnya mengakhiri perbincangan sore itu dengan senyum optimis.
Kisah hidup Sujinah dan Sugito menjadi pengingat bahwa jalan selalu ada bagi mereka yang mau bersabar dan tetap yakin pada kemampuan diri sendiri. (*)
